CDC Terjunkan Tujuh Tim FETP ke Wilayah Terdampak Gempa di NTT

Tim FETP saat turun ke pusat pengungsi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu. F Kedubes AS for SEAJori

Flores, SEAJori – Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menerjukan tujuh tim Field Epidemiology Training Program (FETP) guna memperkuat respons kesehatan pascabencana di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang melanda wilayah tersebut, Sabtu (15/8/2026) lalu.

Program yang menggandeng  Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini ditempatkan di Nagekeo, Ende, Manggarai Timur, Sikka, Manggarai Barat, dan Ngada dan telah berjalan dalam kurun waktu hampir satu bulan sejak Minggu (23/8/2026).

Read More

“Pengerahan tim FETP ini kami lakukan untuk membantu memperkuat respons kesehatan masyarakat di tengah kondisi pascagempa, khususnya di wilayah pengungsian dan daerah yang terdampak langsung bencana,” ujar Direktur CDC untuk Indonesia, Dr. Rebecca Merrill lewat siaran pers yang diterima dari Kedubes AS di Jakarta, malam tadi.

Rebecca menyebutkan, tim yang mereka kirim terdiri atas petugas FETP, pengajar lapangan, serta tenaga kesehatan daerah. Mereka melakukan sejumlah tugas penting, seperti menilai kebutuhan kesehatan masyarakat yang terdampak dan mengungsi, memperkuat sistem pengawasan penyakit, serta mengidentifikasi tanda-tanda awal yang berpotensi memicu wabah penyakit.

Data dan temuan yang dikumpulkan di lapangan kemudian digunakan untuk memberikan rekomendasi berbasis bukti kepada pemangku kepentingan dalam menentukan prioritas penanganan darurat.

“Respons cepat ini menunjukkan bagaimana kemitraan yang telah terjalin lama antara CDC dan Indonesia membantu program FETP bergerak cepat dan efektif di tengah situasi darurat,” ungkap Rebecca.

Menurutnya, keberadaan tim epidemiologi di lapangan juga penting untuk memastikan respons kesehatan didasarkan pada informasi yang aktual.

“Dengan menyediakan data secara real-time, tim ini membantu mengarahkan respons sekaligus mencegah potensi penyebaran penyakit pascabencana,” ujarnya.

Kerja sama CDC dan Kementerian Kesehatan Indonesia dalam pengembangan FETP telah berlangsung sejak 1982. Program tersebut dirancang untuk membangun kapasitas tenaga epidemiologi agar mampu mengumpulkan, menganalisis, dan menggunakan data kesehatan masyarakat sebagai dasar pengambilan keputusan.

Selama lebih dari empat dekade, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas Indonesia dalam mendeteksi dan merespons ancaman kesehatan masyarakat, termasuk dalam situasi kedaruratan dan bencana.

FETP sendiri memiliki peran penting dalam sistem kesehatan masyarakat Indonesia karena menempatkan tenaga epidemiologi di lapangan untuk mendeteksi potensi ancaman penyakit secara lebih dini.

CDC yang menyatakan dukungan terhadap program tersebut merupakan bagian dari kerja sama yang lebih luas dengan Pemerintah Indonesia dalam memperkuat ketahanan kesehatan dan kesiapsiagaan menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat. (*)

Related posts