Para Orang Tua Murid Beri Dukungan Kepada 2 Guru PG Djuwita, Ada Apa?

Suasana penjemputan oleh para orang tua dan wali murid saat menjemput anak-anak mereka di PG Djuwita, Baloi, Kamis (5/11/2026). F Nur SC (SEAJori)

Batam, SEAJori – Sejumlah orang tua murid memberikan dukungan kepada dua guru Kelompok Bermain (PG) Djuwita yang ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan Tindak Pidana Kekerasan Terhadap Anak oleh Polda Kepri.

Mereka menilai kedua guru yang tersandung kasus tersebut justru dikenal sabar, tegas, dan memiliki kedekatan emosional dengan anak-anak didiknya. “Kita aja nangis ya, sedih,” ujar Egya, orangtua murid saat ditemui di lingkungan PG Djuwita di kawasan Baloi, Lubukbaja, Kamis (5/11/2026).

Read More

Sembari menunggu anaknya, Egya mengatakan, anaknya M telah belajar bersama Fitri Sidabutar sejak pertama masuk PG Djuwita level A. Awal masuk sekolah, sang anak sempat kesulitan berpisah dengan orang tuanya dan selalu menangis. Namun, kehadiran Fitri yang oleh orangtua murid akrab disapa Ms Fifi membuat anaknya perlahan merasa nyaman.

“Bahkan, anak saya selalu ingin mengikuti gurunya kalau pergi ke toilet. Sering juga menceritakan aktivitas di sekolah bersama gurunya di rumah,” ujarnya.

“Bonding seorang guru dengan anak itu kelihatan. Dari matanya, dari senyumannya. Anak saya benar-benar happy kalau sama Miss Fifi. Bahkan saat naik level, kepada pihak sekolah saya tetap minta Ms Fifi yang jadi wali guru anak saya,” tambahnya.

Lebih lanjut Egya mengapresiasi PG Djuwita dalam mendidik dan mendampinginya anak-anak mereka yang masih balita dalam membangun kemandirian. “Ini ya, dari yang anaknya sebelumnya harus selalu disuapi kini mulai belajar makan sendiri, mampu beradaptasi,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Gita, wali murid lainnya. Anaknya telah belajar bersama Fifi sejak level A hingga level B. Selama ini, ia kerap memantau langsung kegiatan belajar mengajar karena pihak sekolah memberikan kesempatan kepada orang tua untuk melihat aktivitas anak di dalam kelas.

“Dari pengamatanku, Ms Fifi merupakan guru yang tegas, tetapi tidak kasar ya lebih ke disiplin. Kalau katanya Ms Fifi kasar ke anak, saya lebih garang mengajari anak di rumah. Inikan lingkungan sekolah, guru berhak mendidik dan mendisiplinkan anak. Bahkan saya sampai bilang ke Ms Fifi, ‘Miss, anak saya agak lebih ditegaskan saja’ karena saya tahu karakter anak saya,” jelas Gita.

Gita menambahkan, anaknya yang semula sering menangis, enggan duduk di kelas, hingga mengalami tantrum saat pertama masuk sekolah, kini menunjukkan perkembangan. Seperti berhasil menjalani toilet training dan makan sendiri, anaknya juga mulai terbiasa dengan basic manner, seperti mengucapkan kata-kata sopan seperti sorry dan thank you.

“Ketika Ms Fifi tak ada di ruangan, anak saya pasti mencari dan memanggilnya. Kan kita bisa lihat,” jelas Gita.

Dia berharap proses hukum yang menjerat kedua guru anak mereka tersebut berjalan adil dan memberikan kepastian bagi semua pihak termasuk PG Djuwita, karena berdampak langsung juga kepada anak-anak mereka yang kerap mencari para gurunya.

Sementara itu, Vioren, wali murid lainnya, juga mengaku prihatin atas kasus yang menimpa Ms Fifi. “Selama ini anak saya terlihat senang belajar bersama guru tersebut dan bahkan sering mencarinya ketika berada di rumah ya,” jelas Vioren sambil berlalu usai menjemput anaknya.

Dia pun mengungkapkan rasa prihatinnya atas kasus yang membelit tempat dua anaknya bersekolah tersebut. “Saya prihatin dengan kejadian yang menimpanya karena yang saya tahu, dia sangat menyayangi anak-anak. Semoga Ms Fifi mendapatkan keadilan,” tutupnya.

Kepala Sekolah PG Djuwita, Lidia Siadari mengatakan mereka mendukung penuh dua gurunya yang menghadapi persoalan hukum.

“Kami shock tentunya. Apalagi ini masalah sekolah. Kami memberi pendampingan hukum dan dukungan penuh terhadap guru kami,” ujarnya.

Dia juga turut mempertanyakan dasar penetapan tersangka kepada dua staf guru tersebut. “Harusnya bukti-bukti ditunjukkan kepada kami. Kapan, dimana, jam berapa kekerasan terjadi. Ini ruang kelas anak berdinding kaca, orangtua dan wali murid bebas melihat. Tapi kan sayangnya bukti tak ditunjukkan. Ini sih yang kami pertanyakan,” tuntutnya.

Lantas bagaimana kondisi guru saat ini? PG Djuwita membebaskan guru supaya fokus pada proses hukum. Hanya saja, guru tetap memilih masuk. “Mereka lebih bahagia bertemu anak. Ya kami tetap mendukung apa pun pilihan para guru,” tutup Lidia. (*)

Related posts