Asap Makin Pekat dan Berbau, Kualitas Udara Batam Memburuk Tembus 216,5 Mikrogram per Meter Kubik

Indeks Kualitas Udara Batam terpantau memburuk di angka 215,5 mikrogram/meter kubik, Rabu (14/10/2026) pukul 12.00. Hal ini masuk kategori tidak sehat. F BMKG Hang Nadim for SEAJori

Batam, SEAJori – Kualitas udara di Kota Batam, memburuk sejak Rabu (14/10/2026) pagi. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 190,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 08.00 WIB dan meningkat menjadi 215,5 mikrogram per meter kubik pada pukuk 12.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Stasiun BMKG Kelas I Hang Nadim Batam, angka tersebut menunjukkan lonjakan signifikan dengan kategori peringatan merah, atau sangat tidak sehat.

Read More

Grafik riwayat PM2.5 pada 14 Oktober 2026 memperlihatkan konsentrasi partikulat halus berada di kisaran 80–120 µg/m³ pada pukul 00.00 hingga 07.00 WIB. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi 190,1 mikrogram/meter kubik pada pukul 08.00 WIB dan menyentuh level 215,5 pada pukul 13.40 WIB.

“Kejadian ini kemungkinan dari peningkatan akibat karhutla di Sumatera bagian selatan dan juga sebaran dari karhutla di Pulau Kalimantan khususnya bagian selatan,” ujar Ketua Tim Pelayanan Informasi BMKG Hang Nadim Batam Kepri, Suratman ketika dihubungi Rabu (14/10/2026) siang.

Memburuknya kualitas udara di Batam dapat dirasakan sejumlah warga saat keluar rumah. “Begitu keluar rumah, bau asap pekat menusuk hidung. Aduh sangat tidak sehat ini,” ujar Debora Ekawati, warga Sukajadi.

Dia pun langsung memerintahkan seluruh karyawannya menggunakan masker. “Sudah tidak benar ini. Masa kita menghirup penyakit ke tubuh,” tambahnya.

Sementara itu, Yani Sitanggang, karyawan salah satu perusahaan di Batamcenter mengemukakan dia menjadi korban kabut asap sejak sepekan lalu. “Saya sampai demam dan radang tenggorokan. Asma turunan yang tak pernah kambuh jadi kambuh,” ujarnya.

BMKG kelas 1 Hang Nadim Batam, mengukur kualitas udara berdasarkan PM2.5. Ukuran ini merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.

“Paparan polusi jenis ini berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung,” jelas Suratman.

Dia pun mengimbau masyarakat Batam supaya membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Pantauan di lapangan, jarak pandang akibat kabut asap ini juga menurun menjadi sekitar 5-10 meter di kawasan Baloi dan sekitarnya.

“Oh ya, kami turut mengingatkan jarak pandang yang terbatas akibat asap pekat ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Kami meminta pengendara meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kecepatan saat dibutuhkan,” tutup Suratman. (*)

Related posts